GOALS

Mengakui Kesalahan Tidak Selalu Buruk



"Hanya ada satu cermin, yaitu cermin dari dalam diri. Semua yang kamu lihat dari luar merupakan refleksi apa yang sedang kamu pikirkan."
– Victoria Grant
Sengaja mengawali tulisan kali ini dengan sebuah kutipan dan hal ini ‘mungkin’ berkaitan dengan apa yang akan saya ceritakan. Cerita ini terjadi saat saya masih SMA dan akan saya ceritakan ulang dengan esensi yang sama tapi kemasan berbeda, hehe.

Seingat saya inilah pertama kalinya saya menangis di sekolah. Saya tidak peduli dibilang cengeng atau apa, yang saya pikirkan bagaimana menyelesaikan masalah ini. Jadi, beginilah ceritanya.

Siang itu semua kawan-kawan saya sibuk berdandan karena akan mengikuti sebuah pawai. Saya juga tak kalah sibuk, saat itu saya mengenakan kostum perawat. Beberapa menit kemudian semua sudah menggunakan kostum dan kami bersiap untuk berangkat.

Saat inilah hal yang tak terduga terjadi. Pintu kelas mendadak rusak (tidak bisa dikunci) ketika saya mencoba untuk menutupnya (bukan sembarang pintu, pintu mahal :v). Saya bingung dan takut kalau barang-barang berharga di kelas akan dicuri orang. Saya memang overthinking saat itu, sampai-sampai saya menangis, wwkw.

Btw, kelas saya satu ruang dengan laboratorium. Ini sementara karena saat itu sedang ada renovasi gedung. Saya takut bukan main karena kelas as laboratorium berisi barang-barang yang mahal dan kalau hilang pastinya karena pintu yang rusak itu. Saya sampai mikir kemana-mana dan ini memang kesalahan saya.

So, alhasil saya tetap mengikuti pawai meskipun sebenarnya hati dan pikiran saya tidak disitu. Fisik saja yang disitu. Sepulang pawai saya masih duduk di depan kelas. Saya masih bingung harus bagaimana kemudian kawan-kawan saya pun membujuk saya untuk pulang karena sudah jam sore. Kalau dipikir-pikir ya nggak mungkin juga saya nunggu kelas ini, jadi saya pun pulang.

Dalam perjalanan saya, saya terus memikirkan pintu tadi. Saya tidak tenang dan alhasil saya punya solusinya. Yeeahh, sampai rumah saya bergegas mandi dan bersiap menuju rumah kepala laboraorium yang memang tidak jauh dari rumah saya.

Saat itu saya benar-benar sudah pasrah dan siap dengan semua kemungkinan yang terjadi. Entah membayar pembelian kunci yang baru atau dimarahi. Saya sudah siap dan saya pun menemui beliau.

Dengan hati yang dagdigdug dan bersiap untuk dimarahi, saya lalu menjelaskan maksud kedatangan saya. Saya juga menjelaskan  kronologi rusaknya pintu kelas as lab itu. Saya menjelaskan dengan rinci dan saat itu saya sangat menunggu bagaimana respon beliau.

Well, benar-benar di luar ekspektasi saya. Saya tidak kena marah apalagi hukuman. Setelah saya menjelaskan semuanya, beliau tidak ada rasa marah sedikitpun ke saya. Beliau malah memotivasi saya untuk tidak kepikiran soal hal ini dan pintu akan diperbaiki oleh sarpras sekolah.

Berawal dari sinilah saya belajar kalau mengakui kesalahan memang tidak seburuk yang kita kira. Justru dengan mengakui itulah yang membuat kita akan tenang. Semua persepsi atau pemikiran kita tentang orang lain juga mempengaruhi diri kita. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa positif thinking perlu dilakukan. Rasa takut dan cemas terkadang memang berasal dari pemikiran kita sendiri. 

0 komentar:

Post a Comment