GOALS

BK: Maraknya Perkawinan Anak



Lho kenapa bahasanya perkawinan?

Kenapa bukan pernikahan?

Sebenarnya saya juga penasaran dan mendengar kata “perkawinan” kok agak gimana gitu. Lebih nyaman dengar “pernikahan” aja XD. Tapi hal ini sudah dijelaskan oleh dosen saya saat forum diskusi.

Istilah perkawinan ini digunakan karena mengacu peraturan UU tentang Perkawinan. Dosen saya, Bapak Azmi juga menyatakan bahwa perkawinan yang berasal dari kata “kawin” itu mendekati istilah “zauj” yang terkesan lebih halus dan sopan. Nah, biasanya penyebutannya pas ijab qobul. Tidak akan saya tuliskan karena dapat menimbulkan gejala halu dan baper XD.

So, kali ini kita akan mereview materi Perkawinan Anak, berikut reviewnya.

Apa itu Perkawinan Anak ?

Perkawinan anak ini lebih sering kita dengar dengan istilah pernikahan dini, yaitu pernikahan yang dilakukan pada usia yang melanggar peraturan UU Tentang Perkawinan. Peraturan UU Perkawinan di Indonesia sendiri menyatakan bahwa usia minimum laki-laki dan perempuan untuk menikah adalah 19 tahun. Hal ini diatur dalam UU No.16 Tahun 2019.

Seperti yang kita tahu banyak sekali berita-berita mengenai pernikahan dini dan ya apa yang bisa dilakukan ? Pasal 26 No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menyatakan bahwa orangtua diwajibkan melindungi anaknya dari pernikahan dini tapi saat ini penikahan dini masih marak terjadi. Kenyataannya? masih banyak terjadi hal ini.

Apa Penyebab Pernikahan Dini ?

Penyebab adanya pernikahan dini ini dilatarbelakang oleh beberapa faktor. Pertama adalah pendidikan. Seorang anak yang putus sekolah padahal usianya masih wajib sekolah maka cenderung akan melakukan hal yang tidak produktif. Kedua adalah hubungan biologis. Kasarannya jika anak hamil diluar nikah, mau tidak mau sebagai orang tua biasanya akan segera menikahkan anaknya. Ketiga adalah ekonomi. Biasanya hal ini terjadi pada masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Ketidakmampuan melanjutkan pendidikan dan dengan keterbatasan biasanya akan lebih memilih menikahkan anaknya agar bebannya sedikit berkurang. Yah, terutama perempuan. Tapi sangat berbeda dengan laki-laki. Laki-laki memiliki tanggungjawab yang besar, pemimpin keluarga dan rumah tangga. Gek piye wes siap rung gaes ? XD (iklan). Keempat, faktor adat. Adat ini seperti halnya sebuah kepercayaan yang sudah melekat sehingga tetap dilaksanakan. Kelima adalah orang tua. Beberapa orang tua memang memiliki pandangan yang berbeda. Ada yang orangtua waswas dengan anaknya yang berpacaran sehingga segera menikahkannya. Adapula orangtua yang akan menikahkan anaknya ketika sudah mapan, siap lahir batin dan siap sak apa-apaneee. Ya allah iki bahasan e ngenemen.

Bagaimana Solusi Mengatasi Pernikahan Dini?

Ada banyak solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi adanya pernikahan dini ini. Pertama, memberdayakan anak. Caranya dengan mengadakan program pelatihan maupun keterampilan bagi anak-anak. Kedua, mendidik dan melibatkan orangtua untuk mengatasi pernikahan dini. Hal ini dilakukan dengan cara membangun komunitas, kampanye atau bertatap muka langsung. Ketiga, meningkatkan akses pendidikan. Hal ini dilakukan agar pendidikan memang berkaitan dengan penundaan pernikahan dini. Dalam lembaga pendidikan, anak dalam mengembangkan potensi diri dan belajar bersama teman yang lain.

Sekian dulu review kali ini, tunggu postingan berikutnya guys. Eh, jangan lupa tinggalkan komentar :)



0 komentar:

Post a Comment