GOALS

Playing Victim


Terselenggaranya KKN-DR (Dari Rumah) tentunya menuai banyak pro kontra di kalangan mahasiswa. Termasuk tertuang dalam kalimat ini.

“Gak ada DPL, gak ada living cost, gak ada pendampingan, yah enakan kampus dong?’

Wuh, begitulah sedikit cuplikan story WA yang menyambut saya pagi ini. Btw, sadar gak kalau kalimat ini sebenarnya playing victim?

Sebenarnya apa sih Playing Victim itu?
Victim playing (also known as playing the victim or self-victimization) is the fabrication of victimhood for a variety of reasons such as to justify abuse of others, to manipulate others, a coping strategy or attention seeking. ~ Wikipedia

Pada umumnya, playing victim itu seseorang yang menempatkan dirinya sebagai korban dan cenderung melihat segala hal di luar dirinya (bisa orang lain atau sesuatu) sebagai pelaku.

Nah, hal ini kadang dimanfaatkan untuk mengontrol dan memanipulasi orang lain. “Victim Player” ini akan berusaha untuk membuat “sang pelaku” merasa bersalah sedangkan “victim player” merasa perlu dikasihani, paling menderita, menuai banyak simpati dan pembenaran dari lingkungannya.

Pernah ketemu sama orang seperti ini gak?

Dalam pergaulan pastinya kita bakal nemu orang yang kayak gini. Ciri-cirinya paling jelas ya “gak mau disalahkan dan menganggap dirinya sebagai korban” atau biasa disebut “mentalitas korban”.

Sejauh yang saya ketahui, setiap orang pasti berpotensi dan bahkan pernah melakukan playing victimtermasuk saya dengan taraf dan cara saya sendiri. Hal ini menurut saya sebuah bentuk keegoisan karena kita cenderung fokus dan menjadikan diri sendiri sebagai pusat pembenaran.

Wajar sih karena hal ini seperti sebuah respon dengan analogi kita akan makan saat lapar. Tapii, kita kan bisa mengendalikan diri dan memilih respon apa yang akan kita tampilkan. Misalnya, mengendalikan diri tidak makan jatah teman saat kita lapar. Ketika disalahkan, kita memilih untuk meminta maaf meskipun kita bisa melawan balik.

So, memang sulit untuk menghilangkan playing victim dalam diri tapi ya kan bisa dicoba.

Karena apa?

Karena menjadi korban pada dasarnya sebuah ketidakberdayaan terhadap suatu hal dan menyebabkan ketidakbahagiaan.

Lah kalau terus terusan jadi korban trus kapan bahagianya?

Sepertinya ini juga berkaitan dengan sudut pandang, open minded yang pada intinya melihat segala sesuatu dari berbagai hal.

“Bahagia bukan dicari tapi bahagia diciptakan”



0 komentar:

Post a Comment