GOALS

Turah: Dilema Kaum Marjinal



Ekspektasi di awal nonton film ini sepertinya tak jauh berbeda dari film Senyap dan ternyata benar. Film Turah ini layaknya film dokumenter dengan menampilkan keadaan yang sebenarnya. Akan tetapi, tema yang diangkat berbeda, film ini mengajak saya menyelami bagaimana kondisi masyarakat disana. Fyi, film ini terpilih menjadi perwakilan film dari Indonesia untuk bersaing diajang Academy Awards atau Oscar Tahun 2017. Tahun 2016 sendiri film ini juga mendapat berbagai penghargaan seperti Geber Award dan Netpac Award dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival.

Hoh, keren ya?

So, kali ini akan saya review film Turah yang disutradarai oleh Wicaksono Wisnu Legowo.

REVIEW FILM

Film ini bercerita mengenai kehidupan di Kampung Tirang, sebuah kampung terpencil di Kota Tegal. Rasanya saya seperti diajak masuk ke kempung dan melihat bagaimana kejadian disana. Selain terpencil, kampung ini juga terisolasi dari dunia luar. Bahkan listrik dan air bersih pun tidak ada di kampung ini.

Turah yang sejak kecil sudah ada di Kampung ini memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bekerja sebagai buruhnya Juragan Darso. Tidak hanya Turah, warga kampung pun menjadi buruhnya Juragan Darso ini, mulai ternak kambing, barang bekas, tambak ikan semua warga bekerja pada Juragan Darso lalu juragan ini pun memberikan upah pada warga.

Turah sendiri termasuk orang yang manut dan istilahnya “nrimo ing pandom” sehingga pasrah-pasrah saja dengan keadaannya saat ini. Namun berbeda dengan Jadag, seorang pemabuk, tukang selingkuh yang ingin berubah dan tidak ingin hidup susah. Selama bertahun-tahun Jadag bekerja pada Juragan Darso tapi hidupnya tidak pernah berubah. Dia juga cemburu pada Pakel, tangan kanan Juragan Darso yang lulusan sarjana.

Merasa telah permainkan dan ingin berubah, Jadag pun mengajak Turah dan warga kampung untuk membuka mata mereka bahwa mereka bisa mendapatkan penghasilan yang lebih, mereka dapat upah karena bekerja. Layaknya laut yang tenang, Jadag seperti gelombang yang mendadak datang.

Film ini tidak diiringi musik pengiring sehingga kemurnian suasana desa semakin nyata. Para akting tokoh juga epik dan penuh emosi. Kita bisa merasakan bagaimana geramnya Jadag dengan lontaran kata-katanya yang frontal lalu dia diam seperti berpikir kembali terhadap perkataannya tersebut. Film ini memang berhasil membuat ritme yang lembut kemudian meledak, lembut lagi meledak lagi. Huh,

Ceritanya sendiri sangat ironis, kelam dan tentunya mengajak kita untuk merasakan bagaimana kehidupan di Kampung Tirang. Warga kampung seperti pasrah, nrimo, dan tidak pernah mengeluh atau memang tidak berani mengeluh dan takut kehidupannya terancam?

Eh, saya sendiri memaknai bahwa makna dari film ini sangat dekat dalam kehidupan kita. Menurut saya, Jadag memiliki peran utama dalam film ini, dia berani melawan, menyuarakan aspirasi dan apa yang ia rasakan meskipun pada akhirnya ia menghadapi kematian. Well, hingga Turah sendiri belajar dari Jadag. Dia akhir film, Turah pergi bersama istrinya keluar dari kampung itu. Film ini seperti mengajak penonton untuk memberikan makna tersendiri. Why and why?

Singkatnya, kampung ini layaknya zona nyaman dan sebenarnya di luar sana kita punya banyak kesempatan dan peluang. Kita hanya perlu satu langkah untuk berani mencoba dan berani gagal. Meskipun pada akhirnya tetap berhadapan dengan kematian. 



0 komentar:

Post a Comment