GOALS

Review Film Tilik: “ Koyo Ndue Karir Wae”

Sumber: Kompas


Nggak kebayang kalau Film Tilik ini bakalan viral dan booming kayak begini. Apalagi dengan tokoh bu Tejo. Mendadak sehari setelah film Tilik tayang di youtube langsung pada ramai ngomongin film ini.

Film yang diproduksi pada tahun 2018 ini ditulis oleh Bagus Sumartono kemudian dijadikan film pendek dengan sutradara Wahyu Agung Prasetyo.

Saya sendiri mengenai judul Film Tilik dan menunggu film ini tayang di youtube sudah lama, terutama saat saya melihat behind the scene film tersebut. Saya jadi penasaran filmnya seperti apa.

Hasilnya beberapa hari lalu film ini di upload di youtube kemudian langsung deh saya nonton dan komentar hehe.

Film ini dimulai dengan sebuah truk yang melakukan perjalanan kemudian banyak ibu-ibu satu romongan naik truk tersebut. Mereka mau menjenguk atau tilik bu lurah yang ada di rumah sakit (di kota).

Suasananya yang khas pedesaan dan logat yang natural membuat saya hanyut dalam film ini. Hampir mirip sih kalau di sekitar daerah saya juga ada budaya kayak gini. Satu rombongan ke rumah siapa, atau kemana gitu.

Saya sendiri melihat film ini sebagai hiburan semata karena film buat saya adalah seni. Siapapun boleh menginterpretasikannya seperti apa.

Saya bilang begini karena beberapa jam yang lalu melihat salah satu kritik dari film ini. Katanya sih, menuntun masyarakat untuk percaya dengan informasi yang belum jelas alias menggunakan teori cocoklogi. Hihi. Yo kan diambil positif nya aja menurut saya..

Film ini juga menggammbarkan stigma masyarakat seperti tokoh Dian yang seperti perempuan yang punya karir, fokus ke pekerjaan dan belum ingin menikah. Ketriger sedikit pas Bu Tejo bilang

“La kok durung rabi ki nyapo?”

Halah, persis tetangga-tetangga kita kan ya? Hahaha.

Film ini juga bercerita kalau perempuan itu ya dirumah aja, nggak keluar dan buruan nikah. Hmmm.

Figurnya Dian ini yang seperti tidak mematuhi norma sosial, tidak seperti masyarakat pada umumnya karena Dian seperti belum menikah (padahal temannya sudah). Belum lagi nih soal kecantikan Dian yang membuat ibu-ibu insecure, takut suaminya berpaling dan takut rumah tangganya di rusak.

Buat saya, film ini sangat relateble, melihat budaya tilik, beredarnya hoax, gap masyarakat kota dan desa, pergosipan sampai tokoh bu Tejo yang super lamis dan kadang bisa kita jumpai karakternya di sekitar kita XD

Btw, emang sih ada yang mengkritik kalau film ini sebuah pembodohan tapi itu pendapat mereka-lah, saya juga punya pendapat sendiri soal film ini. Overall, keren.



4 komentar

  1. hihihi, seru banget filmnya, agak heran mengapa baru booming sekarang, padahal ya bagus-bagus loh, jauh lebih manfaat ketimbang konten-konten gaje yang ada di yutub zaman now :D

    Dan memang benar, kebanyakan itu bercerita tentang kehidupan sehari-hari.
    Kalau masalah insecure, sebenarnya nggak bisa juga dikatakan insecure sih.

    Sayapun setelah menikah juga kalau liat ada wanita yang belum nikah, terus ramah sama suami saya, agak deg-degan.
    Karena kalau hati udah ketemu itu, susah ngelepasnya sih.
    Iya kalau belom punya anak, suami kecantol wanita lain, itu mah gampil.
    Say babay aja, selesai perkara.

    Nah ini udah punya anak, say babay, anak jadi terlantar deh, bertahan, sakit hati seumur hidup.

    Daripada sakit sakit, mending waspada.

    Sebenarnya ini dirasakan semua istri, hanya saja kadar dan outputnya beda, ada yang terang-terangan macam bu Tejo itu, ada juga yang manyun aja.

    Tapi semua itu sebenarnya lumrah.
    Toh juga dalam Islam, wanita single itu nggak dilarang, tapi ramah sampai kadang nggak tahu batas mendesah-desah itu, kan memang dilarang hahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, bener banget mbak. Filmnya bagus. Terima kasih sharingnya sebagai seorang istri hehe. Saya bisa belajar banyak biar nantinya juga waspada hahahahaha.

      Delete
    2. Cocok ki gae podcast Part 3

      Delete
  2. Dadi wong kui seng solutip😬🤣

    ReplyDelete