GOALS

Dilema Kuliah Online


Sempet bingung juga ini nanti gimana. Jam 10 ada acara pembekalan Magang 2 sedangkan saya masuk kuliah mulai jam setengah 8 sampai sore.

Saya sempet kepikiran buat berangkat jam 7-an supaya langsung kuliah di Ponorogo dan gak bolak-balik. Rencananya ya bakal berangkat pagi tapi ternyata gak jadi. Jam pagi kosong sehingga tinggal kuliah jam 10-an.

Lah, malah pas bareng banget dengan acara pembekalan magang. Wes ah ini nanti gimana ya liat aja, hehe.

Tepat jam 10-an pembekalan Magang 2 dimulai dan ternyata nggak terlalu lama. Sekitar 1 jam-an pembekalan ini berlangsung. 

Adapun hal yang dibahas dari segi inti dan SOP Magang 2 yang dapat saya simpulkan sendiri kalau Magang 2 ini

·         Daring atau Luring tergantung sekolah
·         Ketentuan jika daring dan luring
·         Real teaching
·         Sepenuhhnya penilaian di tangan guru pamong
·         Fleksible

Poin yang saya ambil ini kemudian ditambah kertas pendukung hardfile dari SOP dan Kebijakan Akademik mengenai Magang 2.

Seperti apa banyangan Magang 2 pun belum saya proyeksikan. Kalau mau mulai ya tak ceritakan disini gais, hehe.

Pembekalan selesai jam 11-an kemudian saya ngobrol sama temen-temen sebentar karena saya mesti menemui dosen.

Why and why?
Saya menemui dosen saya karena menanyakan sistem perkuliahan karena ada masalah dengan medianya. Alih-alih bertemu dosen yang saya cari malah saya diajak ngobrol dengan dosen yang disitu.

Tidak banyak, hanya bapak dan ibu dosen.

Terima kasih bapak Shofwan Hadi dan Ibu Ulum yang berkenan berbagi cerita mengenai perkuliahan di tengah pandemi.

Saya sebagai mahasiswa menyikapi kuliah online begini memang masih perlu adaptasi. Dari segi fasilitas saya sudah lengkap, ada sinyal dan laptop maupun hp sehingga sejauh ini tidak ada kendala. 

Tapiii, dari segi pemahaman materi saya kadang mesti mempelajari ulang. Ini saya, berbeda dengan teman-teman yang lain.

Kalau ditanya media apa yang saya mudah maka saya jawab kalau saya lebih suka WAG.

Karena apa?

Karena fastrespon dan saya rasa lebih efektif karena teman-teman memiliki Aplikasi Whatsapp dan ini sudah familiar.

Kalau ditanya media apa yang favorit maka saya jawab Google meets atau Zoom dan semacamnya. Btw, lebih jelas zoom. Dengan menggunakan media ini, kita bisa tanya jwab via video.

Balik ke dosen-dosen tadi ternyata beliau juga kadang merasa bimbang mesti pakai media apa. Pakai E-Learning atau GC atau Zoom dan semacamnya.

Menurut saya pribadi ini memang sebuah tantangan sih. Kita mesti mencoba atau tetep biasa saja.

Sejauh ini saya pun mulai melihat banyak dari dosen saya yang menjadi Youtuber. Apa respons saya?

Keren dan saya jadi pengen.

Salah satu dosen saya mengunggah materinya melalui Youtube. Beliau adalah pak Nawari Ide.

Saat materi ditayangkan di youtube jadi kita bebas akses kapan saja dan dimana saja. Kalau lupa materi yang tinggal di play dan dipahami ulang. Nah, ini nih enaknya kalau pakek youtube.

Selain sharing soal media, saya juga memahami sudut pandangan dosen mengenai hal ini. (memposisikan diri saya menjadi dosen sebentaarrr sajah)

Oke, jadi bingung juga mesti gimana. Materi disampai melalui media apa dan apakah mahasiswa juga bakalan memahami materi tersebut.

Selaku dosen dan mahasiswa sebenarnya juga beradaptasi mengenai perkuliahan di tengah pandemi ini.

Dosen akan belajar kembali bagaimana perkuliahan melalui zoom, bagaimana teknisnya dan bagaimana mahasiswa bisa memahami materi. Begitu pula dengan mahasiswa.

Mungkin ini kembimbangan saya kalau saya jadi dosen ya (banyangin dululah wkwk).

Misalkan tatap muka ya nggak mungkin juga. Kondisi masih pandemi dan banyak mahasiswa yang berada di luar kota. Kasihan juga mesti bolak-balik ke kampus yang nggak semua mata kuliah masuk.

Misalkan daring juga menjadi pilihan satu-satunya. Tambah lagi media yang digunakan apaa.

Dilema lagi.

Kalau pakai WAG kadang banyak spam, chat tidak terkondisikan dan tertimbun. Kalau pakai Zoom akan berlangganan jika butuh waktu lama. Selain itu, banyak mahasiswa yang rumahnya kesulitan sinya.

Mesti gimana ya?

Fokus dengan solusinya dengan demikian menjalani perkuliahan ditengah pandemi dengan fasilitas yang ada.

Kalau dibilang Why and why gak bertatap muka ya kan ini ada kebijakannya?

Kebijakan dari kebijakan paling mendasar nih trus baru berdampak ke mahasiswanya.

Kampus ya gak serta merta buat membuka kuliah tatap muka lawong belum ada kebijakan atau instruksi apapun dari atas.

Sepertinya memang perlu pertimbangan kembali.

Nggak mudah juga jadi dosen yang ngatur begitu banyaknya mahasiswa. Eaak, kayak dosen aja nih XD.

0 komentar:

Post a Comment