GOALS

PELECEHAN SEKSUAL

Pagi-pagi saya sudah dikejutkan dengan berita pelecehan seksual yang terjadi di daerah Ponorogo, tepatnya di arah Perempatan Jetis. Infonya saya dapatkan dari Instagram @infoponorogo.

Sejak muncul postingan itu ternyata muncul juga korban lain yang pernah mengalami hal serupa. Hal tersebut membuat saya pribadi jadi waswas dan sekaligus membuka lebih jauh mata saya kalau disekeliling kita masih banyak yang menjadi korban pelecehan seksual. Korban sendiri tidak pandang bulu, bisa anak-anak, perempuan, laki-laki atau siapapun itu.

Dari tahun ke tahun, jumlah  pelecehan seksual di Indonesia pun juga meningkat. Tercatat dari bulan Maret-April 2020, Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Untuk Keadilan terdapat 97 kasus pelecehan seksual.

Trus sebenarnya apa sih pelecehan seksual itu?

Sejak kecil kita memang tidak pernah mendapat edukasi mengenal pendidikan seksual. Kita hanya diminta untuk bersikap sopan, memakai pakaian yang sopan tanpa kita tahu bagaimana pendidikan seksual itu. Poin utama adalah pelecehan seksual yang ‘mungkin saja’ terjadi pada diri kita tapi kita tidak menyadarinya.

Menurut Meity Arianty STP.,M.Psi, pelecehan seksual merupakan segala bentuk perilaku berkonotasi seksual yang dilakukan sepihak dan tidak dikehendaki oleh korbannya, bentuknya dapat berupa ucapan, tulisan, simbol, isyarat dan tindakan. Jadi pelecehan itu tidaknya fisik saja seperti pegang-pegang bagian tubuh yang privasi tapi juga dalam bentuk hal lain seperti catcalling.

Dalam pembagiannya pelecehan seksual terbagi menjadi 5 yaitu sebagai berikut.

1. Pelecehan Fisik, pelecehan ini seperti menyentuh tubuh misalnya berciuman, meraba atau hal lain yang mengarah ke cabul.

2. Pelecehan Verbal, pelecehan ini seperti sebuah ucapan yang mengarah ke seksual seperti catcalling atau penyebutan alat vital.

3.  Pelecehan Isyarat, pelecahan ini seperti sebuah isyarat misalnya lirikan mata atau bahasa tubuh mengandung seksual.

4. Pelecehan Tertulis, pelecehan ini seperti mengirimkan gambar atau foto pornografi dalam sebuah chat atau media tertentu.

5. Pelecehan Psikologis, pelecehan ini beroreientasi pada emosional korban. Biasanya pelaku akan memaksa korban untuk berkencan atau melakukan hal yang tidak diinginkan.

Kalau dari kasus di Ponorogo itu tadi berarti lebih ke pelecehan fisik dan itu murni pelecehan seksual. Saya tidak tahu persis apakah korban melapor ke polisi atau tidak tapi saya berharap korban melapor agar kasus dapat ditangani lebih lanjut oleh polisi. Hal yang membuat saya tercengang lagi di kolom komentar berita tersebut ternyata masih ada korban lain yang sebelumnya pernah mengalami pelecehan yang serupa tapi baru speak up.

Pelecehan seksual bisa terjadi pada siapa saja.

Sumber:

https://medium.com/@lisounair/pelecehan-seksual-pengantar-edukasi-bagi-khalayak-umum-f52d5d6cae83

Instagram @infoponorogo

4 komentar

  1. iya betul. Aku juga pernah mengalaminya, tapi lebih ke catcalling gitu sih! Dan itu bikin risih. Pengen aku balas tapi aku takut juga karena yang catcalling ada banyak, sedangkan aku cuma sendiri.

    Kebanyakan korban pelecehan ga speak up karena itu kali ya, pelakunya banyak, sedangkan si korban cuma seorang diri. Apalagi kalau sudah di pelecehan fisik. Kalau ngomong, nanti malah disangka yang jelek-jelek sama sekitar.... Tapi sekarang-sekarang ini sudah mulai ramai nih agar para korban mulai speak up.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah sama mbak, saya juga sering kalo catcalling. Mau bales ya kadang takut tapi kalo gak dibales mereka catcalling mulu. Kalo ada yang catcalling tuh emang risih dan ngerasa gak aman. Dan bener juga kalo kebanyakan korban gak speak up mungkin karena itu tadi. Bs jd malu atau takut.

      Delete
    2. iyaa kaan. Kalo kitanya lagi ramean, kayanya mreka juga ga brani deh buat catcalling. Berhubung lagi jalan sendirian, baru deh mreka begitu. Rasanya pengen dipites palanya atu-atu.

      Delete
    3. Hehe iya mbak bener, sy kadang juga mikir gimana menyikapinya. Kalo ada catcaller tu kita mesti ngelawan apa diem apa gimana.Hiih

      Delete