GOALS

Rahmi Faradisya Ekapti: Memilih Berkarir sebagai Dosen


Halo semuanya,

Mengawali segmen #RuangTanya minggu ini saya akan membahas tema dalam bidang pendidikan yakni “Profesi Dosen”.

Adakah yang punya cita-cita jadi dosen?

Kalau ada, kalian wajib baca hasil interview saya dengan narasumber kita kali ini nih. 

Btw, minggu ini saya berkesempatan menginterview Ibu Rahmi Faradisya Ekapti. Beliau merupakan salah satu dosen Pendidikan IPA di IAIN Ponorogo. 

Pengalaman pertama beliau ngajar sebagai dosen ternyata nggak gampang loh. Beliau malah pernah dikira mahasiswa magang dan sempat diremehkan mahasiswa juga. 

Loh, emang kenapa ya? 

Hal itu tidak berlangsung lama. Akhirnya,  mahasiswa mulai menghargai dan antusias menjalani perkuliahan dengan beliau. Malah ada kelas yang ngasih kejutan ke beliau loh. 

Waah, penasaran gak sih dengan cerita beliau selama menjadi dosen ini? Yuk simak hasil interview saya dengan ibu dosen yang satu ini. 

#1 Bagaimana langkah awal Ibu menjadi dosen? Apa sejak kecil memang bercita-cita menjadi dosen?

Pada saat saya kecil layaknya anak-anak pada umumnya seperti waktu kecil ditanyain apa cita-citanya pasti mereka jawabnya ingin yang terbaik seperti jadi dokter atau yang lain. Tetapi seiring berjalannya waktu dan SMA saya juga dari jurusan IPA sehingga saya sempat dilema saat masuk ke perguruan tinggi (pilih IPA atau yang lain). Nah, pada waktu itu saya ingin memilih jurusan Kesehatan Masyarakat, UNAIR. Tetapi hasil tes saya tidak lolos. Mungkin jalan saya bukan disitu dan mungkin passion saya memang di pendidikan. Akhirnya, dengan dorongan dan motivasi orang tua karena orang tua saya juga berlatar belakang pendidikan (ibu saya seorang guru) sehingga Ibu menyarankan saya untuk memilih pendidikan di pilihan kedua. Saya pun memilih kuliah di UNESA.

#2 Dari segi background pendidikan, mengapa Ibu memilih jurusan Pendidikan IPA?

Saat itu saya melihat peluang dan mikir-mikir lagi kalau ke PGSD terkesan umum dan kalau ke Bahasa Inggris juga lebih menekankan anak bahasa (pemikiran saya saat itu). Padahal pendidikan matematika ataupun bahasa inggris prospeknya ya bagus juga. Akhirnya, saya disarankan Ibu untuk memilih Pendidikan IPA di UNESA, saat itu namanya Pendidikan Sains.

#3 Sejauh ini, apa tantangan Ibu saat menjadi seorang dosen?

Sebenarnya banyak sekali tantangan menjadi dosen. Salah satunya adalah menghadapi mahasiswa. Misalnya, saya sudah merancang pembelajaran sedemikian rupa tapi terkadang respons mahasiswa itu jadi tantangan tersendiri untuk saya. Saya pun pernah mengalami situasi dimana saya ingin seperti ini tapi ekspektasinya berbeda. Nah, inilah tantangan yang harus saya evaluasi. Pada saat mengajar, kita harus mempertimbangkan tujuan kita, karateristik mahasiswa seperti apa dan pembelajaran seperti apa, apalagi jika mahasiswanya memiliki motivasi yang rendah. Hal ini sangat menantang sekali untuk mendobrak semangat mereka.

#4 Terkait pembelajaran, bagaimana tantangan Ibu pertama kali mengajar mahasiswa?

Pertama kali saya mengajar mahasiswa di UTM (Universitas Trunojoyo Madura) dan saat itu saya tanpa persiapan apa-apa. Ibaratnya saya diterima lalu besoknya ngajar. Bayangkan, malamnya nggak sempat persiapan tapi besoknya udah ngajar. Tapi alhamdulillah karena saya saat kuliah S2 sudah banyak mengajar di lembaga bimbingan belajar jadi sudah ada modal sedikit sehingga tinggal mentalnya  dalam menghadapi mahasiswa. Awalnya saya juga minder melihat mahasiswa yang terkadang postur tubuhnya lebih besar dari saya tapi saya tekankan kepada mereka walaupun fisik lebih besar dari saya tapi ingat kalau pengalaman dan pengetahuan saya mungkin lebih dulu dari mereka. Akhirnya, mereka lebih menghargai walaupun dari mereka ada juga yang bilang “kok dosennya badannya kecil” dan bahkan saya juga pernah dipanggil “Mbak” oleh mahasiswa karena saya dikira mahasiswa magang. Saya sempat sedikit diremehkan namun saya pun perlahan menceritakan profil saya dan lama kelamaan mereka tertarik dan semangat belajar.

#5 Apa pengalaman memorable selama menjadi dosen?

Pengalamannya saat di UTM itu ada kelas dimana saya dikasih surprise kue ulang tahun. Saya sangat terkejut karena saat itu saya baru disana, ngajar juga belum lama tapi mereka sangat antusias. Saya merasa angat dihargai dan begitu berkesan. Kalau di IAIN Ponorogo, saya terkesan dengan kesopanan mahasiswanya.

#6 Terakhir, apa tips Ibu untuk generasi muda yang ingin menjadi dosen?

Semua profesi pasti ada plus minusnya. Kalau saya lebih seneng jadi dosen daripada guru karena menurut saya waktunya lebih fleksible. Buat teman-teman punya impian jadi dosen hal pertama yang bisa dilakukan adalah fokus, seperti fokus cari beasiswa karena biaya S2 memang mahal. Selanjutnya, belajar bahasa inggis dan persiapan kampus mana yang akan dituju. Tetapkan juga mau di jurusan linier atau non linier. Teman-teman bisa list dulu plus minusnya. Oiya, kalau mau S2 usahain ya memang serius S2, seperti setelah lulus S1 langsung kejar S2. Kalau berhenti sebentar (cth: kerja), biasanya S2 akan terabaikan dan bisa-bisa ya nggak jadi S2.

Wah, ternyata menarik juga ya cerita dari Ibu dosen ini. Btw, buat temen-temen yang mau lanjut S2 bisa ikutin tips nih dari bu dosen. Tips yang paling utama yakni mesti fokus kalau mau lanjut S2 alias jangan ditunda-tunda.

Nah, jadi gimana nih mau lanjut S2 atau kerja atau nikah aja? Hehehe

 

 

 

1 komentar