GOALS

Diet Informasi

 


Tiba-tiba saya teringat kalau saya pernah menghapus akun instagram pribadi saya dengan jumlah followers 1000-an lebih. Awalnya saya sempat ragu untuk menghapusnya namun pada akhirnya saya hapus dan saya  kembali membuat akun. Alasan utama saya menghapus akun tersebut karena tidak bisa membuat highlight (entah kenapa kwkw) dan followers yang banyak tidak faedan sama sekali.

Akhirnya, saya membuat akun baru dengan tujuan utama mencari informasi dan sekadar say hi kepada kawan-kawan terdekat saya. Lambat laun saya menggunakan kaun terbaru ini membuat saya kadang menghabiskan waktu karena banyaknya informasi. Padahal sosial media utama saya saat ini hanyalah instagram. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika saya punya Facebook, Twitter atau hal lain. Meskipun sebenarnya saya juga punya tapi sengaja saya non aktifkan.

Ada beberapa alasan mengapa saya memutuskan untuk menonaktifkan sosial media tersebut. Facebook dan twitter saya nonaktifkan karena rasanya saya tidak punya tujuan kenapa bermain sosial media tersebut. Untuk saat ini itulah alasan saya dan mungkin saja beberapa tahun kemudian akan berubah sejalan perkembangan saya. Namun, dibalik semua itu ada sisi lain yang kadang membuat saya kangen dengan sosmed tersebut. Facebook menjangkau teman-teman lama saya karena saya buat facebook semenjak SMP, sedangkan twitter menjangkau teman-teman yang sefrekuensi dengan saya karena kadang kita ngebahas hal yang sesuai dengan minat kita. Apapun itu semua tergantung diri kita dan saya memilih menonaktifkannya sampai waktu yang tidak bisa saya tentukan.

Sejauh ini saya merasa baik-baik saja dan tidak masalah bagi saya. Saya juga mulai unsubscribe beberapa email bisnis yang sering masuk. Selain bikin spam juga mengganggu.

Saya sendiri sebenarnya juga mengalami FOMO (fear of missing out) dimana saya merasa takut ketinggalan informasi dengan level sekian. Hampir setiap hari saya membaca informasi baik melalui detik.com, kumparan atau platform lain. Lama-lama saya capek sendiri, meskipun saya sudah menguranginya dengan menonaktifkan sosial media tapi sampai sekarang masih saja begitu. Saya mesti latihan lagi untuk “tidak tahu itu tidak apa-apa”. Banyak berita bersliweran yang kadang membuat saya terus mencari yang lain, terutama yang berkaitan dengan berita tersebut. Huh, capek tapi gimana ya kadang reflek.

Sampai sekarang saya pun masih mencari formula yang pas agar bisa mengendalikan hal ini. Saya harus fokus dan tahu apa yang penting untuk saya dan apa yang tidak penting.


0 komentar:

Post a Comment