GOALS

Menuju Demisioner

Kalau kamu ikut organisasi dan menjadi pengurus pastilah paham dengan istilah demisioner.

Menurut Wikipedia, demisioner merupakan keadaan tanpa kekuasaan. Biasanya dalam sebuah kabinet atau organisasi akan mengalami hal ini, terutama saat pergantian kepengurusan.

Bicara soal demisioner kok jadi ingat kalau besok saya bakalan mengalami hal ini, hehe.

Setelah dua tahun saya bergabung kepengurusan organisasi akhirnya besok tugas ini telah selesai dan saya tidak lagi menjabat sebagai pengurus. 

Mau tahu saya sebagai apa di pengurus ini?

Saya menjadi seorang pemimpin alias ketua di organisasi tersebut.

Tidak percaya?

Saya sebenarnya juga tidak percaya tapi kenyataannya begitu. Saya masih ingat awal mula masuk organisasi tahun 2016 kemudian saya dipilih jadi ketua tahun 2018 dengan masa bakti 2018/2020 alias 2 tahun.

Banyak suka duka yang saya alami, apalagi di tahun 2019 saya mengikuti 2 organisasi di kampus. Posisi saya di organisasi tersebut juga beragam, 1 organisasi sebagai sekretaris umum dan 1 organisasi sebagai pengurus departemen. Berarti saya menjabat 3 sekaligus di tahun 2019, sebagai pemimpin, sebagai sekretaris dan sebagai pengurus departemen. Huwa, kok bisa saya melakoninya. Jangan meniru hal ini, tiru yang baik aja, lol.

Untuk tulisan kali ini saya akan fokus ke refleksi menuju demisioner terutama flashback awal saya menjadi pemimpin dan alasan saya tidak menginginkan orang lain tahu kalau saya adalah seorang pemimpin organisasi.

Menjadi Pemimpin

Dalam konteks secara umum sebenarnya saya sudah sering menjadi pemimpin dalam skala kecil seperti kelompok. Selain itu saya juga kerap menjadi pengurus harian di berbagai organisasi. Saya sebenarnya tidak berharap menjadi bagian pengurus tapi selalu saja saya ditunjuk. Untuk organisasi dimana saya besok demisioner ya baru kali ini. Mungkin inilah pengalaman saya menjadi pemimpin dan belajar dalam berproses dalam skala yang lumayan besar. Saat saya menjadi pemimpin ternyata banyak hal yang saya pelajari. Meskipun banyak juga rintangannya. Akan tetapi, Banyak hal yang tidak saya dapat selain menjadi pemimpin. Intinya mesti menjadi pemimpin untuk belajar hal tersebut.

Seperti yang kita semua ketahui kalau semua akan ada kelebihan dan kekurangannya. Saat menjadi pemimpin pun demikian, mau tahu bagaimana kelebihan dan kekurangannya?

Secara umum kelebihannya adalah kita lebih dikenal orang banyak, kita belajar memanajemen orang lain, memiliki relasi yang luas, mempercantik CV, dan banyak skill yang bisa dipelajari, dsb. Sedangkan kekurangannya adalah tenaga, waktu dan pikiran yang kadang terkuras, anggota yang kadang bikin emosi dan banyaklah, hehe. Tentunya ini sebuah konsekuensi.

Alasan Tidak Ingin Diketahui Orang Lain

Sejak saya dipilih menjadi pemimpin, saat itu pula saya merasa tidak percaya dengan diri saya sendiri. Selain itu, overthinking pun kadang menyerang.

Apakah saya bisa?

Apakah saya mampu melakoni 3 organisasi belum lagi tugas kuliah dan tugas yang lain?

Langkah awal terutama bagaimana saya mesti belajar menerima realita yang ada dan saya mesti fokus dengan hal yang bisa saya kendalikan. Saya kemudian menenangkan diri dengan tidak terlalu mengekspose perihal hal ini.

Mengapa demikian?

Saya merasa nyaman dan aman saja sebenarnya. Saya juga berpikir kalau yang terpenting bukan eksistensi saya tapi bagaimana tugas ini dapat saya tuntaskan.

Hanya beberapa teman saya yang mengetahui kalau saya seorang pemimpin organisasi. Sejujurnya ada kekhawatiran juga kalau teman-teman akan sedikit memberikan jarak kepada saya karena hal tersebut. Saya juga khawatir kalau saya jadi bahan bullyan (sebenarnya, hmm). Meskipun demikian ya masih banyak yang tahu juga sebenarnya. Wes pokoknya saya utamakan fokus menyelesaikan tugas ini. 

Dalam rangka menuju demisioner ini akan ada banyak hal ingin saya ceritakan. Terutama tentang pengalaman saya memimpin sebuah organisasi. Saya rasa ini bukan hal yang mudah dan saya berterima kasih dengan diri saya sendiri. Saya sudah melalui semua ini. Aish! 

0 komentar:

Post a Comment