GOALS

Melawan Stigma Perempuan

 

Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels


Sekolah duwur-duwur paling yo akhir e nang omah”

“La cah kae biyen sekolah e adoh teko Jogja akhir e momong anak”

Sudah menjadi makanan saya jika mendengar kalimat seperti itu. Lingkungan pedesaan melihat kalau anak terutama perempuan yang sekolahnya tinggi katakanlah kuliah S1 begitu sudah dianggap wah dan bakal berpotensi dibully ketika lulus trus menikah dan tidak jadi sesuatu. Sesuatu yang saya maksud adalah sebuah profesi seperti guru.

Rasanya masih kental seorang perempuan dianggap manusia yang mesti dirumah aja, tidak boleh kemana-mana, tidak boleh over dan menganggap kalau pendidikan tinggi trus tidak jadi apa-apa itu sebuah kesia-siaan. Padahal pendidikan itu hak setiap orang, apalagi perempuan yang nantinya menjadi madrasah pertama seorang anak.

Mau setelah kuliah jadi apa itu urusan pribadi masing-masing dan menurut saya apapun pilihannya setiap ilmu pastilah bermanfaat. Kuliah bukan hanya nilai A, masuk kelas, absen trus ngerjain tugas. Akan tetapi kuliah itu ajang kita berproses sebelum terjun ke kehidupan yang sebenarnya.

Selain itu kuliah sendiri juga mengajarkan kita soal penyelesaian masalah, kerjasama, manajemen dan banyak hal yang tak bisa saya sebutkan satu persatu. Hal semacam ini tidak akan mudah kita terapkan selain kita berproses dan latihan terus-menerus. Latihan yang saya maksud dapat berawal dari bagaimana cara kita memanajemen tugas kuliah dan tugas di rumah, manajemen keuangan kita, maupun menyelesaikan permasalahan kita sendiri.

Berkaitan dengan perempuan lulusan sarjana kemudian memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga buat saya ya oke saja. Saya ambil contoh ada teman yang saya kenal dan dia memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Padahal dia lulusan perguruan tinggi negeri ternama dan orang tuanya pun termasuk orang yang menengah keatas.

Sepertinya yang saya jelaskan diawal tentu saja beberapa orang ngebully “Lo kok nggak jadi apa gitu”

“Wah, sia-sia kuliahnya”

Dan lain-lain.

Padahal orang-orang tidak tahu kalau teman saya ini merintis bisnisnya sendiri, tidak tinggal dengan orang tua, mandiri dan belum lagi harus mengatur waktu antara merawat anak dan bisnisnya.

Saya malah terinsprasi dengan kemandirian dan keberanian teman saya ini karena memang berbeda dari yang lain.

Memutuskan jadi ibu rumah tangga, memulai bisnis kuliner dan fashion, belum lagi harus mengurus keluarga.

Bukankah itu semua terdiri banyak tugas?

Tentunya banyak skill yang teman saya ini harus kuasai. Mulai skill merawat anaknya, skill bisnisnya, skill manajemen stressnya. Bukankah kuliah juga memiliki peran dalam semua itu ?

Btw, kuliah buat saya adalah investasi waktu dan ilmu. Apapun yang kita lakukan saat kuliah pada dasarnya tergantung dari diri kita. Mau aktif, pastif, haha hihi, heha hehe ya kitalah yang akan mengunduh semuanya.

“Sopo nandur bakale ngunduh”

Stigma masyarakat masih saja mengira kalau perempuan itu ya rajin-rajinlah belajar masak, rajin dandan dan rajin buat bersih-bersih. Padahal perempuan buat  sekadar itu. Perempuan juga bisa bergulat dengan hal lain. Mengejar cita-cita, mengejar mimpinya dan apapun yang mereka inginkan selagi bisa.

Kadang saya miris kalau melihat perempuan apalagi seusia saya atau bahkan di bawah saya memilih menikah karena “disuruh orang tua”, “tidak ada pilihan lain”, “pengen aja” atau bahkan hanya karena emosi asmara sesaat.

Mereka yang menikah tapi kadang saya ngerasa “Hah, usia segitu udah nikah”. Saya heran dan mesti gimana ya. Kadang kita mau bantu tapi bingung mau bantu apaan. Banyak masalah perempuan yang ada disekeliling kita. Terutama soal isu pernikahan dini yang kian marak terjadi, apalagi di tengah pandemi seperti ini.

Terakhir, perempuan seringkali mendapat stigma yang kurang mengenakkan, terutama ketika akan mewujudkan mimpinya. Hal yang saya rasakan saat ini adalah patokan usia 25 tahun untuk menikah. Heii, memangnya ada ya patokannya? Siapa sih yang buat patokan. Aishhh.

Buat para perempuan dimanapun kalian berada. Ayo kita teruskan perjuangan kartini muda dan sebisa mungkin mewujudkan cita-cita kita.

Wes sudah sekian tulisan kali ini. Akhirnya bisa menulis sesuai tema hehe.

2 komentar

  1. Sippo.. setuju banget. Kuliah itu bukan cuma mengejar gelar, tapi melatih diri kita untuk menyelesaikan berbagai masalah hidup, menambah teman dan relasi, serta pengalaman. Walaupun setelah nikah gak bekerja di perusahaan bukan berarti kuliahnya sia2. Karena untuk jadi seorang ibu kita butuh ilmu, kita butuh pintar. Gimana anak pintar kalo ibunya gak banyak tau tentang banyak hal? Minim ilmu dan pengalaman?

    Gemes kalo ada orang yang masih ngomong"sekolah tinggi-tinggi kok ujung2nya di dapur"... Hey netizen lebih baik begitu, daripada sekolah tinggi lalu bekerja di luar sampai tidak sempat ngurus keluarga, anak dititipin ke nenek, dan suami jajan di luar. Pilih mana hayo? Hehe duh emosi nih saya. Maaf ya kak hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe sabar kak.
      Kalau membandingkan kedua hal tersebut saya rasa sulit kak karena latar belakang yang berbeda .
      Sy sendiri rasanya sangat bersyukur bisa (bisa dibilang privilege) karena bisa kuliah karena tidak semua orang punya kesempatan tersebut.

      Delete