Dec 14, 2020

Menjadi Berbeda

Foto: LinkedIn Inspira Space

Kemarin saya menemukan gambar tersebut di LinkedIn. Selain itu juga ada caption mengenai cara menjadi yang terbaik diantara yang baik. Ternyata hal ini pernah saya lakukan sewaktu sekolah dulu. 

Saat bulan Ramadhan sekolah saya rutin mengadakan kegiatan Pondok Ramadhan dimana salah satu kegiatannya adalah pidato setelah sholat dhuha. Orang yang berpindato ternyata perwakilan dan saya mewakili kelas saya. 

Btw, ini pertama kalinya saya berbicara di depan umum. Sebelumnya rasa merasa was-was, cemas, takut dan saya pun menggunakan kertas agar tidak lupa. 

Lonceng berbunyi dan semua siswa berlarian persiapam sholat dhuha. Saya juga persiapan dan nambah lagi persiapan berpidato. 

Setelah sholat usai saya pun persiapan ke depan dan berpidato. Saya masih ingat tangan saya gemetaran karena grogi, belum lagi saya belum terlalu hafal dengan pidatonya. Pidato pun saya lakukan dan di bagian penutup saya memberikan hal yang berbeda dari perwakilan kelas lain. 

Bila ada jarum yang patah

Jangan masukkan ke dalam peti

Bila ada kataku salah

Jangan masukkan ke dalam hati. 

Saya menyanyikan pantun dengan nada Siti Aisyah yang ternyata membuat  teman2 saya kaget dan senang dengan penutup saya. 

Kejadian ini sewaktu SMP dan kembali saya gunakan saat SMA. Saat teman2 menutup pidato dengan serius namun saya memilih berbeda. 

Saya menggunakan lagu dan syair yang kadang saya ganti. Eh ternyata banyak yang suka. Saya juga berkesempatan mewakili sekolah lagi untuk pidato saat ada tamu dan mewakili lomba MSQ kategori puisi. 

Jadilah berbeda, bukan seperti orang pada umumnya. Ini salah satu cara menjadi yang terbaik diantara yang baik. Kalau kata Inspira, cara paling sederhananya adalah tidak melakukan apa yang orang lain lakukan dan melakukan apa yang tidak orang lain lakukan. 



Share:

0 komentar:

Post a Comment