Mar 2, 2021

Coronaversary


pexels

Tepat 2 Maret 2020 lalu Presiden Jokowi mengumumkan adanya pasien positif covid-19 pertama kalinya di Indonesia. Berita ini cukup membuat saya kaget karena sebelumnya ada pejabat yang mengklaim kalau covid-19 ini tidak akan bisa masuk ke Indonesia.

Saya juga masih ingat pertama kali ada berita virus muncul di Wuhan, China waktu sore hari sepulang kuliah. Saya nonton sebentar lalu berlalu. Besoknya di kampus saya dan teman2 sedikit bahas soal virus ini. Kami berharap nggak akan ada di Indonesia. Tapi ternyata tidak demikian, terhitung setahun ini kita berjuang bersama melawan virus ini.

Semua aktivitas juga banyak yang berubah. Sekolah online, kuliah online, seminar online dan masih banyak lagi. Rencana berubah, kondisi berubah dan dunia berubah.

Masih membekas juga di ingatan saya. Sebelum diterapkannya kuliah online ini saya masih UTS (minggu pertama), sedangkan minggu kedua sepertinya sudah online. Tibalah awal bulan April kuliah sudah berubah jadi online.

Saat itulah pertamanya saya mengalami kuliah online. Kuliah online tiap dosen berbeda medianya. Ada yang menggunakan Google Classroom, Google Meet maupun Whatsapp. Presentasi pun juga online. Presentasi online saya saat itu pada mata kuliah Sains dan Kebumian dengan Google Classroom.

Tentunya ini sangat beda dengan presentasi pada umumnya karena saya dan teman2 hanya berbasis teks, nggak ada tatap muka. Tapi menurut saya teman2 lebih aktif saat diskusi via teks dibandingkan saat di kelas.

Setelah kuliah online saya juga menjalani KKN-DR (dari Rumah) dan Magang 2. Kedua mata kuliah ini tidak sepenuhnya online namun fleksibel (bisa online/offline) karena tergantung mahasiswa maupun sekolah untuk magang. Lagi-lagi ini sangat jauh berbeda dari yang saya bayangkan sebelumnya.

Lanjut lagi, 23 Desember 2020 saya melaksanakan ujian proposal skripsi yang juga secara online. Medianya pun tiap dosen berbeda. Ada yang video call, e-learning maupun media lain. Kalau saya menggunakan video call. 

Setahun covid-19 ini saya juga belajar banyak hal terutama mengenai kemampuan untuk terus beradaptasi, bukannya mengeluh dengan keadaan. Meskipun banyak rencana saya yang buyar di tahun 2020 tapi ternyata Allah punya rencana lain untuk saya.

Beberapa rencana saya yang buyar adalah keinginan saya untuk kos dan solo traveling ke Jogja. Dua ini sih yang utama di tahun 2020. Sayangnya buyar dan gagal (halusnya ditunda, hehe). Rencana ini ternyata diganti dengan rencana lain, diantaranya saya berkesempatan gabung di komunitas X dan saya juga ditawarin pekerjaan oleh seseorang yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Selain itu saya juga punya cukup waktu untuk mempelajari hal yang saya sukai. Alhamdulillah, 

Terakhir saya mau menutup tulisan ini dengan kutipan Sujiwo Tedjo.

"Tuhan menghancurkan rencanamu sebelum rencanamu menghancurkanmu"


Share:

4 comments:

  1. Quotenya pas banget dijadikan penutup tulisan. Bener2 menohok.

    Oya nggak terasa ya udah setahun aja nih sejak C19 mendarat di bumi pertiwi. Saya juga ngalamin mbak ada beberapa rencana di 2020 yang harus kandas (atau kalau versi halusnya, ditunda).

    Namun, bener juga, Allah menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih indah.

    Semoga kita semua dimampukan untuk survive dengan C19 ya mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, betul sekali kak.

      Kadang kita juga hanya bisa merencanakan tapi Allah yang menentukan.

      Delete
  2. Quote akhirnya, joss kak.
    Harus lebih pandai bersyukur dengan rencana.

    ReplyDelete