Apr 18, 2021

Jadi Medioker Boleh Nggak Sih?

Adrian Swancar on Unsplash


Medioker buat saya adalah istilah yang baru. Saya juga nemuin istilah medioker akhir-akhir ini, terutama di Twitter. 

Medioker ini berasal dari kata "mediocre" yang artinya biasa aja, nggak istimewa dan pokoknya ya b ajalah. 

Namun saya lihat makna medioker ini seolah jadi tameng untuk pemakluman terhadap diri sendiri. Tidak mau mengeluarkan effort yang lebih, tantangan atau hal lain yang sebenarnya memberikan peluang. 

Saya juga menebak kalau medioker ini nantinya memiliki definisi yang banyak dan makna beragam. Belum lagi anggapan kalau 100% medioker atau 100% ambis. 

Kita nggak bisa sih langsung melabeli kita apakah medioker atau orang yang ambisius karena kedua hal ini bisa terjadi dalam kondisi tertentu. 

Saya sendiri termasuk orang yang suka berambisi. Saya suka menetapkan target yang kemudian memacu saya untuk melakukannya. 

Beberapa kali saya memang jatuh dan capek tapi ketika target itu tercapai ada rasa bangga terhadap diri saya. 

Namun lama-lama saya refleksi diri dan bertanya pada diri sendiri. 

Apakah saya bahagia melakukannya? 

Apakah ini yang saya inginkan? 

Adakalanya saya berambisi misal untuk menuntaskan skripsi harus menetapkan target. Tapi, ada kalanya juga saya biasa saja dan tidak show off kemampuan saya. Saya memilih jadi medioker. 

Saya rasa ini soal pilihan dan pengendalian diri. Mau berambisi atau medioker tetap kitalah yang memilih.

Share:

2 comments:

  1. Kalau saya orangnya fleksibel sih mbak, kadang ambisius kadang malah mempertahankan kemediokeran saya. Tergantung apa tujuannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah iya kak, tergantung situasi dan kondisi hehe.

      Btw, terima kasih sudah mampir

      Delete