May 5, 2021

Menjalani hidup, bukan melarikan hidup

Frank Busch on Unsplash


"Namanya saja ‘menjalani hidup’… bukan ‘melarikan hidup’"

Begitulah kalimat penutup dari artikel greatmind yang aku baca pagi ini. Lantas, aku jadi teringat bagaimana aku sempat berlari dalam menjalani hidup ini. Terutama saat aku terjebak dalam budaya hustle culture (lain kali aku bahas). 

Intinya, hustle culture ini suatu budaya dimana kerja yang berlebihan itu dianggap baik. Padahal kita kan ya butuh istirahat dan melakukan hal yang kita sukai. 

Balik soal hidup. Duh, beradd :(

Saat aku mulai berkecimpung di organisasi apalagi punya jabatan, disitulah semuanya dimulai. Rasanya aku gak punya waktu, tenaga terkuras tapi anehnya aku terus bertahan. Pasalnya aku juga menikmati beberapa keseruan didalamnya. Banyak hal juga yang aku dapatkan. 

Waktu bergulir begitu cepat. Habis di organisasi A, beralih ke organisasi B, dan beralih di organisasi C. Belum lagi soal tugas kuliah dan kerjaan lain. Rasanya lari, lari dan lari. 

Di rumah, seolah aku cuman makan dan tidur. Ngerjain tugas kadang juga di kampus biar sampek rumah tenang. Rapat juga jadi rutinan, seminggu bisa 2 sampai 3x. Begitu gitu terus. 

Tiada hari tanpa rapat, wkwk. 

Saat itulah ada masanya aku benar-benar suntuk seakan tidak menyukai kegiatan ini. Wajar kali ya? Apa karena aku capek ? Entahlah. 

Ngomongin capek biasanya aku memilih pergi sendirian, ke taman atau kemana gitu. Intinya sendirian dan ngajak ngobrol diri sendiri. 

Eh, nggak seperti yang kamu bayangkan. 

Ya nggak ngomong sendiri ya tapi dibatin aja. Kemudian ditulis. 

Buat aku ini cukup ampuh untuk mengetahui apa yang aku inginkan atau lakukan setelah ini. 

Sempat juga aku menyalahkan diriku sendiri. Seolah apa yang aku lakukan ini salahku tapi ya kalau dipikir ada masanya juga aku menikmati kegiatan tersebut. Seperti ngumpul bareng temen, punya cerita seru dan pengalaman lain yang belum aku dapatkan sebelumnya.

Meskipun dibalik itu aku ya capek, letih, kayak dikejar waktu dan kurang tidur. Tidak sepenuhnya benar kalau aku menyalahkan diriku sendiri. Ya kan ada sisi dimana aku menikmatinya. 

Akhirnya, aku memilih belajar bagaimana menerima kondisi dan menyadari kalau apa yang aku jalani akan berlalu. Aku hanya perlu menjalaninya. 

Benar saja, hari ini semuanya sudah berlalu. 

Aku yang dulunya berlari sekarang milih berjalan. Dulu, makan itu sambil ngerjain proposal, jalan-jalan tapi mikirnya rapat dan waktunya libur tapi aku malah ngadain event. Rasanya bergerak terus. 

Memang sekarang mulai berkurang. Sedikit demi sedikit karena sekarang yang dipikirin berubah. 

Bukan rapat atau organisasi lagi tapi setelah lulus kemana ? kerja apa ? dan kawan-kawannya itu.  Hiks,

Kesadaran ini membuat aku paham kalau aku harus menikmati momen saat ini. Bahasa kerennya mindfullnes. Misalnya, makan dengan tenang, menikmati pemandangan sekitar dan fokus dengan apa yang kita lakukan. Aku juga belajar soal slow living. Slow living adalah proses menjalani hidup dengan santai.

Aku memang agak susah kalau santai atau let it flow gitu. Karena terbiasa sistematis, melakukan persiapan dan punya target. Sampai sekarang pun juga masih belajar untuk menerapkan slow living ini. 

Slow yang seolah dianggap lambat, males-malesan, gabut inilah yang kadang membuat aku ingin berlari. Lari dan lari.

Secepatnya ngerjain ini itu sampai lupa waktu. Yaa,  aku harus belajar lagi soal slow living ini. Belajar menikmati momen, tidak buru-buru dan sadar kalau semua punya waktunya sendiri. 

Alon-alon penting klakon

Share:

12 comments:

  1. Aku baru ngeh loh arti mindfullnes itu adalah living for the moment, aku kira semacam teori lagi, hehe. Ibarat bawa hp kemana mana tapi kita sibuk ambil foto sampai lupa menikmati momen dan suasana. Karena yang ada dipikiran, wah bagus nih buat konten sosmed. Wkwkwk

    Hidup juga kaya gitu ternyata yam ada ritme nya. Ada masanya kita bisa seaktif ikut banyak komunitas dan kerja sampai gadang seakan ada something big yang kita kejar dan di nanti. Sampai akhirnya ketemu momen yang kita milih gak ngapa- ngapain dan nikmati hidup saat ini.

    Apapun pilihannya, semoga itu adalah pilihan paling nyaman untuk diri sendiri.

    Btw, salam kenal yaaaa
    With love

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Kak Eka, salam kenal kembali :)

      Iya, seperti yang saya alami kak. Saya sempat dikira aneh memilih kurang aktif begini. Sampai beberapa teman saya heran, hehe. Tapi sayanya ya nyaman. Melakukan hobi, eksplore hal yang saya inginkan, dll.

      Berawal dari kesibukan sebelumnya saya jg jadi belajar mengenai mindfullnes, mengelola emosi dan lebih peduli dengan kesehatan mental.

      Terima kasih sudah mampir :)

      Delete
  2. Salam kenal nanda. Saya panggil nanda saja yah karena usia saya beda tipislah dengan usia ibu Latifa, hihihi.
    Suka dengan tulisan ini, semacam muhasabah untuk rehat sejenak untuk melangkah lebih jauh dan cepat.
    Pelan berjalan dan menikmati setiap momen bukan berarti lambat melainkan berjalan cepat tanpa tergesa. Semangat berkarya ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huaaa, saya dipanggil Ibuuu. Padahal masih adik2 wkwkw.

      Bener banget sih kak. Belajar buat tidak tergesa-gesa :)

      Semangat kembali

      Delete
  3. Ya namanya mengubah kebiasaan memang perlu waktu mbak. Ndak bisa sak det sak nyet, apalagi dirimu sudah terbiasa berada dalam budaya yang super sibuk dan kejar-kejaran target sehingga menuntut dirimu untuk serba sistematis biar nggak ketinggalan laju kesibukan itu.

    Sebenarnya sistematis dan tertata itu juga nggak ada salahnya kok. Hanya saja, yang perlu disesuaikan adalah how you deal with the result.

    Consider yourself as a gardener. Dirimu menanam benih, merawatnya, melindunginya dari serangan hama, tapi dirimu nggak pernah akan punya kuasa akan hasil (buahnya).

    Memang tidak mudah merelakan hasil yang tak sejalan dengan keinginan. That's why, ada baiknya fokusnya bukan ke hasil, tapi ke upayanya. Masalah hasil, udah ada yang ngatur.

    Sometimes we earn, sometimes we learn.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahhh terima kasih tanggapannya kak. "Fokus pada proses, bukan hasil". Keinginan atau harapan itulah yang kadang tidak sejalan :(

      Delete
  4. Hai mba latifa..

    aku pernah merasakan sibuuuuuk banget masa-masa kuliah tuh, lalu berlanjut kerja, eh setelah melahirkan dan resign rasanya kosooong banget. awalnya kehilangan, shock, lalu enjoy eh mlah kebablasan terllau menikmati keselowan dan malah jadi merasa buang-buang waktu.

    Kadang tetap sadar dan hadir itu berarti kita berupaya tidak menyia-nyiakan dan sebisa mungkin memanfaatkannya meski secuil yang bisa dilakukan ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo kak Ghinaa

      Seperti rambu-rambu ya supaya nggak kebablasan slownya. Salam kenal kak :)

      Delete
  5. Halo salam kenal! 🙋🏻‍♀️

    Pas masa-masa aktif berorganisasi emang gitu yaaa. Capeeek banget! Jadi inget segitiga mahasiswa. Jadi tiap sudut itu berisi: tidur cukup; akademik bagus; aktif organisasi
    Nah mahasiswa itu cuma bisa pilih dua karena sisanya pasti jadi korban. Misal pilih aktif organisasi dan akademik bagus, efeknya kurang tidur. Iya ga? Hahaha aku ngerasa kaya gitu sih. Jadi saat aku mau tidur cukup dan akademik bagus, jatohnya ya ga ikut organisasi apa-apa hehehe

    Dari cara hidup yang aktif sampe akhirnya di titik “santai” pasti ga enak ya rasanya. Uda kebiasa aktif tau-tau ga ada yg dikerjain. Berasa hidup jadi hambar. Makanya ada istilah quarter life crisis karena emang di masa abis lulus dan menginjak umur 25 taun tu jadi masa-masa krisis hidup akan arah tujuan mau ke mana

    Nice post btw!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai kak, salam kenal kembali

      Aku baru tahu mengenai segitiga mahasiswa. Hehe,

      Kehambaran ini yang pernah aku rasakan kak. Kayak jadi orang yang beda aja tapi memang pilihan aku sekarang.

      Sosok QLC ini sepertinya yg jadi teman aku tiap malam, wkwk. Kekhawatiran, keraguan dan kebingungan "setelah ini apa?"

      Terima kasih sudah mampir :D

      Delete
  6. Tapi kalau pak sby, semakin cepat semakin baik,,
    Yahh tp lebih baik hidup itu dinikmatin sih gak usah terburu2.. Hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Adakalanya ngegas, adakalanya ngerem kalau kata pak faiz. Hehe

      Delete