May 22, 2021

Ujian Skripsi, Lebaran dan Stoikisme

 

Sumber: Google

Sebelum membaca mari menyanyikan lagu mars pejuang skripsi, hehe. 

Ingatlah... Ingat skripsimu...

Dosen pembimbing slalu menunggu... 

Selamat nggarap skripsi... 

Nggarap skripsi harus semangat.. 

(sambil nyanyi) 

Yeayyyyyy, akhirnya ujian skripsi sudah saya lewati dan kini saya berada di tahap revisi. Hehe. 

Ujian skripsi yang awalnya saya harapkan sebelum lebaran ternyata ya tidak sesuai harapan. Hmm, sayanya aja yang berharap. Jadwal ujian saya ternyata seminggu setelah lebaran. Tepatnya 20 Mei 2021 kemarin.

Oiya, ujian saya dilaksanakan secara online karena kondisi masih pandemi. Bisa dibayangkan ya online? Ketua sidang, kedua penguji dan saya melaksanakannya via WA dengan durasi sekitar 1 jam. 

Balik soal harapan ujian sebelum lebaran. 

Ya berharap memang gitu. Kadang memang mengecewakan. Kita berharap sama dia tapi dianya sama orang lain. Duh, curhat. Tapi kita bisa apa selain menerima? 

Ternyata sesederhana 'menerima' kalau saya ujian setelah lebaran bisa membuat saya tenang dan belajar lebih bersyukur lagi. Terutama bisa ujian bulan ini.

Sebelum mendapat jadwal ujian skripsi, saya juga 'begitu harap' jadwal ujian segera muncul sampai setiap hari saya cek di e learning kampus. Tapi tak ada apapun. Sedangkan teman-teman saya sudah ujian. Ada juga yang memburu saya menanyakan "Kapan ujian? ". Padahal saya tidak bisa menjawab~

Iya, nggak bisa. Karena jadwal itu belum muncul -_-

Sampai akhirnya saya menyadari hal ini. Saya harus menerima (baca: legowo) kalau harus ujian setelah lebaran. Tidak apa-apa dan saat itu juga saya berhenti mengecek di e learning. Saya menguranginya. Sedikit tidak peduli-lah. Kira2 sekitar 2 hari saya tidak mencoba cek jadwal. 

Sampai akhirnya.... 

Saya mendapat pesan dari teman saya yang satu bimbingan. Dia menanyakan jadwal ujian sedangkan saya belum tahu. Dia pun meminta saya untuk melihatnya di e learning dan benar saja. Jadwal itu sudah muncul gais~

Hadehh, giliran ditunggu aja kemarin-kemarin nggak muncul.

Saya mendapat jadwal hari kamis 20 Mei 2021. Seminggu setelah lebaran. Lagi-lagi ya self talk ke diri sendiri "tidak apa-apa". Selalu ada hikmah dibalik semuanya. 

Saya ambil sisi positif ujian setelah lebaran adalah saat lebaran bisa menikmati (tidak diburu revisi) dan lebih mempersiapkan ujian yang akan datang. Saya punya waktu lebih sebelum lebaran. 

Lebaran pun saya lalui dengan tenang dan kegembiraan (lebay) karena jadwal sidang sudah memberikan kepastian. Hehe. 

Namun sisi lain waktu revisi saya sedikit. Malah bersamaan dengan pendaftaran Yudisium, sekitar 2 minggu. Ya semua pasti ada plus minusnya.

(menuju ujian skripsi) 

Persiapan ujian skripsi saya mulai 4 hari sebelum hari H. Cara saya dengan membuat PPT, Mind Mapping dan membaca kembali skripsi saya. Hari-hari menjelang skripsi rasanya seperti mencekam.

Kita tidak tahu saat ujian ditanyai apa, apa yang terjadi dan apakah kita bisa menjawab ini adalah kisi-kisi utama bahan overthinking sebelum ujian. Tapi saya teringat soal filosofi stoikisme.

Filosofi atau pemikiran stoikisme dikembangkan oleh Zeno saat zaman Yunani. Kemudian dikembangkan kembali oleh para filsuf lain seperti Epitectus, Seneca dan Marcus Aurelius. Mereka mengajarkan pemikiran ini karena berguna untuk tetap tenang saat menghadapi situasi yang sulit. 

Beginilah prinsip dari stoikisme,

Kita hanya bisa mengendalikan apa yang ada dalam kendali kita yakni pikiran dan tindakan kita sendiri. 

Di luar pikiran dan tindakan kita berarti tidak bisa kita kendalikan. Sepertinya halnya kejadian, situasi, sikap orang lain atau komentar orang lain. Kita tidak bisa mengendalikannya. 

Trus hubungannya dengan ujian skripsi? 

Apa yang terjadi saat ujian skripsi bukanlah kendali saya. Itu adalah situasi yang terjadi. Hal yang bisa saya kendalikan adalah diri saya sendiri. Dengan demikian, saya harus fokus dan menguasai apa yang saya sampaikan. 

Saya juga membuat pesan (self talk) ke diri sendiri kalau 

"Tidak ada karya yang sempurna dan tidak tahu itu tidak apa-apa"

Dalam mengerjakan skripsi saya berprinsip kalau "Revisi adalah Keniscayaan". Jadi saya harua berdamai dengan revisi dan anggap saja teman, wkwk. 

Tidak ada karya yang sempurna agar saya memahami kalau karya saya ini pasti perlu perbaikan dan harus saya terima. Tidak tahu itu tidak apa-apa agar saya menyadari kalau saya tidak perlu malu kalau belum tahu suatu hal. Tidak tahu ya bilang tidak tahu.

Kedua kalimat tersebut cukup membantu saya untuk lebih tenang dan tidak cemas. Akhirnya, saya bisa menyelesaikan ujian skripsi ini dan dinyatakan lulus. 

Alhamdulillah, legaaa. 

Share:

4 comments:

  1. Hmm... Kalo ngga nginget filsuf stoik nggak tau bakal sesetres apa aku menghadapi skripsi dan revisi2 ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huwaaa, semangat gam. Filosofi ini memang membantu sekali untuk mengurangi kecemasan.

      Delete
  2. Saya baru tau loh, kalau ada mars pejuang skripsi dan baru tau juga tentang pemikiran stekoisme

    Selamat yah mbak latifa udah sarjana,, #tepukkaki,,

    Btw nilainya memuaskan gak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwk,pejuang skripsi harus tau marsnya loh :D

      Filsafat stoikisme alias anti cemas, hehe

      Selamat juga kak nur sudah selesai sidangnya. Sya tadi mampir di blog wkkw

      Nilainya alhamdulillah memuaskan :D

      Delete